Tidak ada dua penulis yang membahas satu hal dengan cara yang sama persis. Kita terinspirasi dan termotivasi dengan cara yang berlainan; masing-masing memiliki alasan mengapa beberapa karakter terus bertahan sedang yang lainnya menghilang diantara timbunan file-file. Saya sendiri tidak paham mengapa beberapa karakter bisa menjadi begitu hidup dengan sendirinya, tapi saya selalu senang jika mereka begitu. Karakter seperti itu paling mudah ditulis. Dan kisah mereka lah yang biasanya selesai.
Bree termasuk karaker yang seperti itu. Dialah alasan utama sehingga cerita ini bisa ada di tangan anda sekarang, dan bukannya terselip diantara labirin folder-folder terlupakan dalam komputer saya (dua alasan lainnya bernama Diego dan Fred).
Saya mulai memikirkan Bree saat sedang mengedit Eclipse. Mengedit, bukan ketika menulis—saat menulis draft awal Eclipse, saya terpaku pada sudut pandang orang pertama; apapun yang Bella tidak lihat, dengar, rasakan, atau sentuh, adalah tidak relevan. Cerita itu merupakan semata pengalamannya.
Langkah selanjutnya dalam proses editing adalah menjauh sedikit dari Bella dan melihat bagaimana ceritanya mengalir. Editor saya, Rebecca Davis, berperan besar dalam proses itu. Dia memiliki setumpuk pertanyaan mengenai berbagai hal yang tidak diketahui Bella, dan bagaimana caranya kami bisa membuat bagian itu menjadi lebih jelas.
Karena Bree merupakan satu-satunya newborn yang Bella lihat, maka Bree adalah perspektif pertama yang kurenungkan untuk dipertimbangkan kejadian dibalik kelahirannya.
Saya memulainya dengan kehidupan dia di ruang bawah tanah bersama para newborn, dan berburu mangsa tradisional mereka. Saya membayangkan dunia dari kaca mata pemahaman Bree. Dan sangat mudah melakukannya. Sejak awal, sebagai sebuah karakter Bree sangat jelas, dan beberapa temannya menjadi hidup begitu saja dengan mudahnya.
Biasanya seperti ini yang saya lakukan: saya menulis narasi pendek tentang apa yang sedang terjadi pada alur cerita yang lain, dan kemudian menulis beberapa dialog pendek. Namun dalam kasus Bree, bukannya narasi, saya mendapati diri saya menulis keseharian kehidupan Bree.
Saat menulis kisahnya, itulah kali pertama saya menginjakan kaki sebagai narator vampir tulen—seorang pemburu, monster. Saya jadi mesti melihat kita, manusia, melalui mata merah darahnya; mendadak manusia berubah jadi mahluk lemah dan menyedihkan, mudah dimangsa, dan sama sekali tidak penting dalam hal apapun kecuali sebagai kudapan lezat. Saya jadi bisa merasakan bagaimana rasanya kesepian sementara dikelilingi musuh, selalu siaga, dan tidak pasti akan apapun kecuali bahwa dirinya selalu berada dalam bahaya.
Saya mesti membenamkan diri pada jenis vampir yang sangat berbeda: newborn. Kehidupan vampir baru adalah sesuatu yang belum pernah saya eksplorasi—bahkan saat Bella akhirnya menjadi vampir. Bella tidak pernah melewati proses kehidupan vampir baru layaknya Bree. Kehidupan newborn seperti Bree sangat bersemangat dan gelap, dan terutama sekali, tragis. Semakin mendekati akhir cerita Bree, semakin saya berharap sebelumnya saya menutup cerita Eclipse dengan sedikit berbeda.
Kira-kira seperti apa yang anda rasakan tentang Bree. Dia merupakan karakter yang tidak penting di Eclipse. Dari perspektif Bella, dia hanya muncul tidak lebih dari lima menit. Namun begitu kisahnya menjadi begitu penting untuk memahami isi novelnya. Ketika anda membaca bagian dalam Eclipse, saat Bella menatap Bree, saat bagaimana Bella menaksirnya sebagai dirinya di masa depan, apakah anda pernah membayangkan kejadian apa yang telah membawanya hingga ke saat itu? Dan saat Bree menatap balik, apakah anda pernah membayangkan bagaimana kelihatannya Bella dan keluarga Cullen bagi dia? Mungkin tidak. Tapi bahkan jika anda membayangkannya, berani taruhan anda tidak akan bisa menebak rahasia-rahasianya.
Saya harap pada akhirnya anda bisa menyukai Bree sama seperti saya menyukainya, meski itu harapan yang kejam. Anda sudah tahu ini: kisahnya berakhir dengan tidak baik. Tapi paling tidak anda bisa tahu keseluruhan ceritanya.
Dan, tidak ada sudut pandang yang benar-benar sepele.
Enjoy,
Stephenie
P.S. Untuk isi novel versi englishnya bisa download disini. Sedang terjemahan Indonesianya masih belum ada versi ebooknya, dan secara manual masih sedang diterjemahkan. Semoga cepat selesai. Kalau tidak sabar, silahkan beli novelnya di Gramedia.
“Tekad kita satu, membebaskan kaum buruh dan membangun Sosialisme!”
Saat ini hanya bisa dikatakan, aku sangat menikmati setiap perbincangan dengannya. Titik, cuma sampai disitu. Sosoknya selalu kuanggap buah imajinasi belaka. Bayangan menyenangkan di dalam kepala.
Sebuah perjalanan politik, sekaligus petualangan yang tak berujung.
William H Gates III. Lebih dikenal dengan nama Bill Gates. Siapa yang tidak kenal orang satu ini, sang penemu sistem operasi Windows. Sistem operasi yang ditemukan dari garasi rumahnya, hingga berkembang menjadi perusahaan raksasa Microsoft.
Sejak pertama kali ditemukan, Windows telah menjadi fenomena. Kini puluhan juta komputer di dunia telah menggunakan teknologi ini. Sekitar delapan puluh persen komputer yang beredar memakai Windows. Ini luarbiasa. Penguasaan pasar gila-gilaan.
Produk-produk itu tidak kalah canggih dengan Windows. Bahkan mungkin di beberapa sisi memiliki banyak keunggulan dibanding Windows. Misalnya saja Mac-OS, dia memiliki berbagai feature dan keunggulan yang sangat menunjang bagi aktivitas grafis. Atau Linux, yang mengunggulkan konsep open souercenya. Siapapun bisa mengakses source code Linux secara bebas. Dengan begitu bisa dikembangkan semau mereka. Siapa saja berhak memakai programnya dan mengoprek-opreknya. Gratis. Itulah kenapa ada puluhan jenis sistem operasi Linux. Yang cukup dikenal diantaranya Red Hat, Mandrake, dan Ubuntu. Dan semua memiliki sistem keamanan jauh diatas Windows.
Microsoft tetap menjadi yang paling besar karena praktek monopoli. Mereka mengikat seluruh produsen komputer besar—selain Apple—dan menawarkan Microsoft sebagai pemegang lisensi tunggal sistem operasinya.
Ikatan itu tidak hanya berlaku bagi Windowsnya, tapi juga untuk program aplikasi keluaran Microsoft lainnya. Salah satu yang pernah diprotes adalah monopoli program Internet Eksplorer. Akibat monopoli ini, program-program sejenis lainnya seperti Netscape atau Opera menjadi sulit bersaing.
Hingga akhirnya setelah lebih dari satu dekade, Microsoft menjadi perusahaan terbesar di dunia. Pendapatannya di tahun 2008 saja mencapai Rp 664.6 triliun. Sehingga wajar jika Bill Gates, sang pemilik, menjadi orang terkaya di dunia. Sangat spektakuler untuk orang yang tidak punya gelar sarjana. Dia pernah kuliah di Harvard University, namun di-DO.
Jumlah kekayaan Biill Gates saat ini telah mencapai US $ 40.700.000.000. Empat puluh koma tujuh milyar dollar. Benar-benar gila! Dan itu kekayaan bersih.
Dari seorang mahasiswa Drop Out berubah menjadi multi milyarder. Misalkan saja kurs dolar saat ini adalah Rp. 8.000. berarti jumlah kekayaan Bill Gates bisa mencapai Rp. 325.600.000.000.000. Tiga ratusan trilyun rupiah!
Sekali lagi, itu kekayaan bersih. Artinya sudah dikurangi dengan resiko investasi, termasuk juga donasinya pada lembaga-lembaga sosial yang ia dirikan. Dan, jumlah itu masih belum ditambah dengan penghasilan tetapnya yang terus terakumulasi.
Time is Money. Setiap detik adalah uang bagi Bill. Ini dalam artian yang paling harafiah. Karena tiap detik ia selalu menghasilkan uang. Bukan cuma uang, tapi uang yang sangat banyak. Bill gates bisa menghasilkan 250 dolar setiap detiknya, atau 2,5 juta rupiah perdetik. Itu enam kalinya Upah Minimum Propinsi di Yogyakarta yang cuma 400 ribu rupiah (itupun dalam sebulan). Jadi, dalam satu hari Bill Gates bisa bertambah kaya 20 juta dolar. Jika ditotal, dalam satu bulan penghasilannya adalah 600 juta dolar. 6 milyar rupiah perbulan!
Hati-hati mungkin sudah tidak ada di dalam kamusnya. Jika sewaktu-waktu segepok uangnya jatuh, misalnya saja 10 juta rupiah, tidak perlu repot-repot diambil. Dia akan menghabiskan waktu empat detik untuk memungut uang itu. Padahal dalam empat detik itu ia sudah mendapatkan penghasilan yang sama. Jadi buat apa membuant-buang waktu, belum lagi dengan resiko encok di pinggang.
Anda pasti juga kenal dengan Michael Jordan. Sebagai super star di era kejayaannya, dia berpenghasilan 20 juta Dolar setahun. Dengan gaji segitu dia tetap harus menunggu selama 227 tahun hingga jumlah kekayaannya bisa menyamai Bill Gates sekarang. Itu dengan asumsi dia tidak makan, minum, atau membelanjakan uangnya.
Coba kita bandingkan dengan Indonesia.
Sebagai negara yang hampir bangkrut, Indonesia memiliki hutang US $ 61,04 milyar, atau sekitar Rp. 567,67 triliun. Apesnya sebagian besar dari hutang-hutang ini tidak jelas peruntukannya bagi kita. Dari jumlah sebegitu, pemerintah baru mampu membayar bunganya saja, belum menyentuh hutang pokoknya. Jadi apa itu namanya bukan bangkrut. Kecuali pemerintah berani membikin gebrakan dengan mengemplang hutang-hutang tersebut.
Ceritanya akan lain jika Bill Gates mau berbaik hati. Di tangan dia, hutang Indonesia akan sanggup dilunasi dalam jangka waktu delapan tahun. Lengkap dengan bunganya. Sangat mudah karena dia menghasilkan 7,8 milyar dolar, atau 78 triliun rupiah setahunnya. Hff.. agak sulit melafalkannya.
Jika saja ia bisa menukar semua hartanya kedalam pecahan satu dolar, maka semua lembaran itu dapat disusun menjadi menjadi jembatan dari bumi ke ke bulan, tanpa putus. Bahkan untuk empat belas jembatan sekaligus. Tetapi sayangnya jembata itu baru akan selesai setelah dibuat nonstop selama 1.400 tahun. Pengerjaannyapun membutuhkan 712 buah pesawat Boeing 747 untuk mengangkut semua uang itu.
Andaikan Bill Gates sebuah negara, maka dia adalah negara terkaya di dunia nomer ke 37.
Atau andaikan saja kekayaan pribadinya dianggap sebagai aset perusahaan. Maka dia masih menjadi perusahaan besar di Amerika. Bahkan jumlahnya masih melebihi aset perusahaan IBM. Perusahaan Bill Gates menduduki posisi ke-13 perusahaan terbesar di Amerika.
Bahkan bisa saja Bill Gates menambah gelarnya menjadi orang paling dermawan di dunia. Dengan kekayaannya dia bisa langsung pensiun. Kemudian ia bisa membagi-bagi uang seratus lima puluh ribu rupiah kepada setiap orang di dunia. Rp. 150.000 bagi masing-masing orang tanpa terkecuali. Dan masih menyisakan lima puluh milyar rupiah bagi dirinya sendiri.
Bill Gates berumur empat puluh tahun. Walau tidak sedermawan itu, dia masih tetap bisa pensiun saat ini juga. Lebih dini dua puluh tahun dari pegawai negri, dan tetap mendapatkan uang pensiun jutaan kali lebih banyak.
Kita asumsikan dia masih hidup tiga puluh lima tahun lagi. Dengan total kekayaannya sekarang, maka ia harus bisa membelanjakan 67 Milyar rupiah. Ini bukan pertahun, atau per bulan, tapi ia harus bisa membelanjakan 67 milyar rupiah setiap harinya! Itu yang dibutuhkan agar uangnya habis sebelum dia berangkat ke surga—kalau masuk surga.
Apa coba yang bisa dibeli dengan uang sebanyak itu dalam satu hari. Mungkin di hari pertama masih tidak terlalu sulit. Tapi di hari ke dua dia akan bingung mau dibuang kemana uangnya. Di hari ke tiga, akan makin sulit membuat daftar belanjaannya. Hingga akhirnya tepat di hari yang ke tujuh ia akan meninggal lebih awal akibat stres berat.
Itulah kehidupan si raksasa Bill Gates. Tidak terjangkau oleh siapapun, terutama oleh penduduk di dunia ketiga. Raksasa dengan penghasilan enam milyar rupiah per bulan. Tujuh puluh delapan triliun rupiah pertahun.
Tapi...
Jika para pemakai Microsoft Windows dapat mengklaim US$ 1 setiap kali komputernya hang akibat Microsoft Windows, maka Bill Gates akan segera bangkrut hanya dalam waktu tiga tahun!
Dita Sari dan kroninya (baca: elite PRD) telah mengajukan proposal yang kemudian meloloskan taktik parlementer dengan merespon pemilu bersama PBR. Dalam proposal itu dinyatakan, tak akan muncul krisis ekonomi yang mendalam seperti tahun 98, atau paling tidak mendekati itu. Sehingga tak akan muncul lonjakan pemiskinan yang dapat memicu radikalisasi massa. Kondisi ekonomi akan berjalan relatif stabil—analisa yang salah total karena yang terjadi kini adalah sebaliknya—dan masyarakat akan tenang, adem ayem .
Dengan alasan—yang salah—tersebut ditambah momentum pemilu ke depan, mereka kemudian menyatakan bahwa menggantungkan taktik pengolahan radikalisasi massa secara tradisional (baca: ekstraparlementer semata) tidak akan terlalu efektif. Keterlibatan massa akan minim.
Sebagian argumentasi itu ada benarnya, maka itu lah Papernas dibentuk, untuk mengintervensi momentum pemilu. Tapi itu bukan berarti meninggalkan sepenuhnya potensi radikalisasi massa, seperti yang sudah dilakukan Dita Sari dan kroninya.
Selepas Papernas gagal verivikasi, Dita Sari dan kroninya justru terjerumus dalam kekeliruan yang fatal. Walau satu-satunya alat elektoral kaum revolusioner telah gagal, mereka dengan picik dan pragmatisnya tetap memaksakan untuk terlibat dalam pemilu secara total. Mereka tidak menghiraukan walau taruhannya adalah menjerat leher partai dan menggantungkannya ke kaki borjuasi. Sebab, seberapapun mereka melakukan pembenaran, PBR tetap lah partai borjuis.
Ini bukan berarti alergi terhadap taktik koalisi. Hanya saja, mutlak dibutuhkan ketepatan perhitungan agar keuntungan sepenuhnya dapat dicapai, bukan sebaliknya justru dimanfaatkan. Jika berkoalisi dengan mereka dalam medan ekstra parlemen, maka kemungkinan memetik keuntungan jauh lebih besar, baik dari segi kampanye atau massa. Melainkan adalah awal dari kehancuran jika partai (baca: PRD) berkoalisi dengan partai boruis dalam medan elektoral. Karena, seluruh partai peserta pemilu bukanlah kelompok pendukung gerakan demokratik yang selama ini bahu membahu bersama partai dan rakyat di jalanan.
Pertanyaannya kemudian, kenapa Dita Sari dan kroninya tidak memilih koalisi dengan PDIP yang basis massanya orang-orang miskin perkotaan, atau dengan PKB yang pernah dekat dengan partai, atau bahkan dengan Partai Buruhnya Muktar Pakpahan yang dulu sempat diajak bergabung dalam POPOR? Kenapa harus PBR?
Beberapa kali Dita Sari mengatakan dalam wawancara di media, bahwa pilihan terhadap PBR adalah pilihan yang terbaik dari yang terburuk.
Apa benar begitu adanya? Biar bagaimanapun yang namanya partai borjuis tetap partai borjuis, apapun label dan embel-embelnya. Tak ada yang terbaik atau terburuk, semua relatif serupa. Yang membedakan masing-masing partai hanya jumlah kursi dan ketersediaan dana. Siapapun pemenang pemilu, hasilnya sama.
Dilihat dari pengusungan program ekonomi dan politik, semua partai dari Golkar, PDIP, PPP, HANURA sampai PBR, semua sederajat. Jangankan PBR, Golkar dan Suharto di era Orde baru bahkan selalu berkoar-koar tentang keharusan mengentaskan kemiskinan, swasembada, membela petani. Tetapi apa buktinya? Itu semua hanya silat lidah khas borjuasi. Apalagi menjelang pemilu seperti sekarang, segala jargon anti kemiskinan, membela wong cilik dan segala tetek bengeknya mulai berseliweran. Lihat saja Prabowo dan Wiranto yang paling mampu memanfaatkan momentum Pemilu untuk mencuci lumuran darah di tangannya lewat buai kata-kata indah. Coba lihat juga janji-janji PDIP dan GOLKAR, pasti akan ditemukan program-program yang sama manisnya dengan yang ditawarkan PBR.
Ini pemilu bung! Sudah jadi watak borjuasi untuk pada berlomba bersolek. Dan hanya bersolek! Tak terkecuali juga PBR.
Kesalahan besar menelan mentah-mentah janji PBR! Itu sama halnya dengan memberi standard yang sama untuk juga mempercayai apa yang jadi janji GOLKAR, PDIP, HANURA, atau GERINDRA. Tidak perduli apakah PBR telah menandatangani MOU bersama PRD. Apalagi sekarang memang sedang trendnya menandatangani MOU, bukan cuma PBR yang melakukannya. Dan itu sekedar untuk menarik simpati, bukan kesungguhan untuk memperjuangkan. Sungguh bodoh jika menggantungkan pada hal tersebut.
Oleh karena itu, berkoalisi dengan Golkar, PDIP atau PBR sesungguhnya sederajat. Sangat absurd jika mengatakan, lebih baik berkoalisi dengan PBR daripada dengan GOLKAR. Karena pada dasarnya sosok mereka sama busuk, hanya topengnya yang berbeda. Yang satu memakai topeng nasionalis, yang lain berikrar perubahan, lalu juga ada yang membawa-bawa nama agama, namun watak sejati dan ideologi mereka serupa, termasuk juga PBR. Sejarah lima tahun mereka duduk di DPR membuktikan hal itu.
Dita Sari beserta kroninya sering mengagung-agungkan PBR sebagai partai yang membela kepentingan rakyat. Beberapa kali dalam media Dita sari menyatakan hal itu. Tapi nyatanya PBR tidak lebih dari partai yang ikut menolak pembentukan pansus BBM. Mereka jadi bagian yang bersepakat dengan kenaikan BBM yang menyengsarakan rakyat. Tidak ada satupun jejak perjuangan PBR dalam keterpihakannya pada kepentingan rakyat miskin!
Dita Sari juga beberapa kali menyampaikan kesamaan program PBR dengan PRD, yang menjadi landasan koalisi serta isi MOU. Program-program tersebut secara garis besar ada 3, yaitu: Anti hutang luar negri; Kemandirian ekonomi ; dan Pemajuan desa tertinggal.
Mana dari ketiganya yang merupakan program revolusioner? Tiga program itu tidak bisa disamakan begitu saja dengan Tri panji partai:
1. Penghapusan hutang luar negri.
2. Nasionalisasi pertambangan asing.
3. Pembangungan industri nasional.
Yang ditawarkan PBR bukan semata beda redaksional, esensinya pun sudah berbeda. Bersepakat dengan itu sama saja menggadaikan ideologi partai, bukan sekedar berkonsensus. Padahal berkonsensi dengan borjuasi saja sudah merupakan dosa besar.
Bahkan secara redaksional pun program-program mereka tidak jauh berbeda dengan partai-partai lain. SBY secara silat lidah sering berkata di pidato-pidatonya tentang pentingnya kemandirian ekonomi. Tanyakan pada politikus PDIP dan Megawati, mereka pasti akan dengan gamblang menyatakan ketidak setujuan akan hutang luar negri. Tengoklah Golkar yang selalu mengusung slogan pengentasan kemiskinan, bahkan di era Suharto pun sempat membuat program desa inpres.
Dita Sari dan kroninya mungkin berdalih bahwa itu hanya masalah tata bahasa, penyesuaian dengan pembahasaan di PBR. Tetapi nyatanya tidak sekedar begitu. Kemandirian ekonomi, kemajuan desa tertinggal, itu semua lebih mirip jargon orde baru. Omong kosong dan terlalu bias makna. Khas elite politik.
Padahal kalau kita melihat kampanye-kampanye pilkada sekarang, mereka sudah jauh lebih progresif dari program yang ditawarkan PBR. Contoh saja, walau hanya sebatas slogan, namun banyak yang sudah mulai berani menjanjikan pendidikan gratis untuk rakyat. Bandingkan dengan program kemandirian ekonomi, atau memajukan desa tertinggal milik PBR. Program pendidikan gratis jauh lebih maju, dan lebih konkret.
Sekali lagi, ini bukan berarti harus sepenuhnya anti terlibat di pemilu. Tapi lebih pada penggunaan taktik yang tepat agar jangan sampai menjerumuskan massa. Di masa kampanye ini, apa yang mau dikatakan pendukung Dita Sari ke massa? “Ayo coblos PBR karena PBR adalah partai yang pro rakyat.” apa itu namanya bukan menipu dan memanipulasi kesadaran massa. Lain halnya jika kemudian PAPERNAS bisa lolos, adalah pernyataan yang tepat jika menyebut PARPERNAS sebagai partai yang pro rakyat.
Persoalannya bukan sekedar ikut pemilu atau tidak. Saya bisa membayangkan, mungkin yang akan dikampanyekan Dita sari dan kroni-kroninya ke massa adalah seperti ini, “Ayo coblos PBR karena di dalamnya ada orang PRD. Jangan lihat PBRnya, melainkan lihat caleg PRDnya.”
Lha kalau seperti itu, berarti tidak ada bedanya ikut dengan partai lain. Bisa saja kemudian diganti: “Ayo coblos GOLKAR karena di dalamnya ada orang PRD. Jangan lihat GOLKARnya, melainkan lihat caleg PRDnya.” Secara ideologis, keduanya sederajat. Jadi, berkoalisi dengan PBR tidak ubahnya berkoalisi dengan GOLKAR.
Di wawancara Dita sari sering berdalih, kalau mencari suara, buat apa ikut partai kecil, lebih baik ikut partai yang lebih besar pemilihnya.
Menurut saya, partai kecil bukan jaminan keterpihakannya pada rakyat. Mereka kecil hanya karena kurang dana dan kurang tenaga, bukan karena lebih berpihak pada rakyat. Apa bukannya alasan utama pemilihan PBR lebih karena mereka lah satu-satunya partai yang menawarkan PRD untuk jadi Caleg, dan serius memberi ruang untuk itu? Harap diperhatikan, serius memberi ruang bagi kader PRD untuk jadi caleg bukan berarti serius memperjuangkan kepentingan revoluisoner.
Itulah alasan utama kenapa Dita Sari dan kroninya berkoalisi dengan PBR, karena cuma PBR yang serius menyediakan ruang sebagai caleg. Selain itu, tak ada dasar strategis lainnya. Hal-hal lain, seperti analisa sitnas dan turunannya, semata dibuat sebagai pembenar keinginan subyektif tersebut.
Sudah menjadi pemahaman bahwa rakyat saat ini cenderung terilusi oleh pemilu. Pertanyaanyannya kemudian, apa bukannya Dita Sari dan kader-kader PRD lainnya juga ikut terilusi?
Bagi kawan-kawan yang bersepakat dengan Dita, analisa lah diri anda dengan sungguh, apa anda terilusi atau tidak? Karena sesungguhnya Dita Sari beserta kroninya sama terilusinya dengan massa. Buntutisme sejati! Tak ubahnya dengan Menshevik yang mencampakan diri masuk ke dalam pemerintahan sementara karena semata mendapat kesempatan untuk itu, tanpa melihat watak sejatinya pemerintahan tersebut.
Massa mungkin terilusi bahwa pemilu bisa menjadi jalan keluar dari kemiskinan. Tapi, bukan tidak mungkin Dita Sari beserta kroninya terilusi dengan bayang indah kursi parlemen, baik di DPR atau DPRD. Kesadaran ini bisa saja terbentuk karena kelelahan berjuang sekian tahun tanpa kenyamanan, apalagi melihat rekan-rekan seperjuangan sebelumnya telah hampir pasti meraih hal itu. Tengok saja Budiman di PDIP yang semakin mapan posisinya dan tinggal selangkah saja masuk parlemen. Atau juga ada Faesol Reza di PKB, atau bahkan Andi Arief yang sanggup masuk ke jajaran birokrasi lewat dukungannya pada SBY.
Sungguh bahaya jika ambisi pribadi tersebut tanpa sadar telah menjadi alasan mendasar dari pemilihan taktik pemilu PRD saat ini. Mereka melakukan pembenaran dengan berbagai analisa serta memanipulasi kesadaran di internal partai untuk menunjang hal tersebut. Dengan slogan revolusioner Dita Sari beserta kroninya menggunakan kendaran PRD & PAPERNAS semata untuk mewujudkan kepentingan subyektif mereka.
Di jawa tengah, sebagai basis loyalis Dita, ada seorang kader (sebut saja namanya Wiwik dari Purwokerto). Beberapa waktu lalu seorang kawan lama bertemu dengannya di kantor PRD Jateng. Dan dalam pertemuan itu Wiwik dengan bangganya berpamer kalau ia telah resmi jadi Caleg Jateng.
Sungguh ironis. Apa itu namanya bukan terilusi! Buntutisme! Parlementaris tulen! Itulah kekerdilan yang berhasil dibentuk Dita Sari dan kroninya, kebanggaan sebagai caleg! Mimpi yang mengalahkan obyektivitas dan ketepatan taktik, bahkan melunturkan ideologi. Mungkin bisa dikata, semerosot itulah kesadaran para loyalis Dita Sari.
Memakai parlemen sebagai alat perjuangan revolusioner
atau
Memakai perjuangan revolusioner sebagai alat menuju parlemen?
Setipis itulah garis pembatas antara watak revolusioner dengan parlementaris tulen. Namun sejatinya, dengan analisa yang obyektif kebusukan tersebut dapat terlihat dengan jelas. Belum terlambat untuk berpindah sikap.
Sebagai catatan, saya sendiri bukan anggota KPRM-PRD atau bahkan juga sekedar penggiat politik. Hanya orang iseng yang berkomentar, itu saja. Yah, ini memang tidak meletakan saya pada posisi yang lebih baik dibanding para opurtunis itu.
